Pendidikan
Musa: Sang Pemimpin Pemberani dari Allah

Musa: Sang Pemimpin Pemberani dari Allah

Halo anak-anak terkasih dalam Kristus! Hari ini kita akan melakukan perjalanan luar biasa ke masa lalu yang sangat penting dalam sejarah keselamatan kita. Kita akan bertemu dengan seorang tokoh besar, seorang pahlawan iman yang dipilih langsung oleh Allah untuk memimpin umat-Nya keluar dari perbudakan. Siapakah dia? Dialah Musa!

Bayangkanlah, anak-anak, ribuan tahun yang lalu, ada sebuah bangsa yang disebut bangsa Israel. Mereka hidup di tanah Mesir, tetapi sayangnya, mereka tidak hidup dengan bebas. Firaun, raja Mesir yang berkuasa saat itu, sangat takut dengan jumlah orang Israel yang terus bertambah. Ia khawatir jika suatu hari nanti mereka akan memberontak. Oleh karena itu, Firaun memerintahkan agar seluruh bayi laki-laki Israel dibunuh. Sungguh kejam dan menyedihkan, bukan?

Namun, di tengah kegelapan dan ketakutan itu, Allah selalu punya rencana. Di dalam keluarga Israel, lahirlah seorang bayi laki-laki yang luar biasa. Orang tuanya, Amram dan Yokhebed, sangat mencintainya. Mereka tahu bahwa hidup anak mereka terancam, tetapi mereka tidak mau menyerah begitu saja. Dengan iman yang kuat, mereka menyembunyikan bayi itu selama tiga bulan. Ketika tidak bisa lagi menyembunyikannya, mereka membuat sebuah keranjang kecil dari tumbuhan papirus, melumurinya dengan ter dan aspal agar kedap air, lalu meletakkannya di antara rerumputan di tepi Sungai Nil. Mereka juga meminta kakak perempuan bayi itu, Miryam, untuk berjaga-jaga dari kejauhan.

Sungguh menakjubkan apa yang terjadi selanjutnya! Putri Firaun, yang sedang mandi di Sungai Nil, menemukan keranjang itu. Hatinya tersentuh melihat bayi yang menangis itu. Meskipun ia tahu bayi itu pasti orang Israel, ia merasa kasihan dan memutuskan untuk memeliharanya. Ia bahkan memberi nama bayi itu "Musa", yang artinya "diambil dari air", karena ia diambil dari Sungai Nil.

Musa: Sang Pemimpin Pemberani dari Allah

Musa tumbuh dewasa di istana Firaun. Ia mendapatkan pendidikan yang baik dan hidup dalam kemewahan. Namun, di dalam hatinya, Musa selalu merasa terhubung dengan bangsanya. Suatu hari, ketika ia sudah dewasa, Musa melihat seorang mandor Mesir menyakiti seorang budak Israel. Hatinya geram, dan tanpa berpikir panjang, Musa memukul mandor itu hingga tewas. Ia kemudian menyembunyikan mayatnya.

Perbuatan Musa ini, meskipun didorong oleh keinginan membela bangsanya, ternyata diketahui oleh orang lain. Ketika Firaun mendengar tentang hal ini, ia marah besar dan ingin membunuh Musa. Maka, Musa terpaksa melarikan diri dari Mesir. Ia pergi ke tanah Midian dan menjadi seorang gembala. Di sana, ia bertemu dengan Yitro, seorang imam Midian, dan akhirnya menikahi putri Yitro yang bernama Zipora. Musa hidup tenang sebagai gembala, jauh dari keramaian istana dan ancaman Firaun.

Bertahun-tahun berlalu. Musa sudah terbiasa dengan kehidupan barunya. Suatu hari, ketika ia sedang menggembalakan domba-dombanya di Gunung Horeb, sebuah gunung yang juga disebut Gunung Sinai, terjadilah peristiwa yang sangat ajaib. Musa melihat sebuah semak berduri yang terbakar, tetapi semak itu tidak hangus. Api itu tidak membakarnya. Rasa penasaran membuatnya mendekat.

Dan di sanalah, anak-anak, Allah berbicara kepada Musa! Allah menampakkan diri dalam nyala api itu dan memanggil namanya, "Musa! Musa!" Musa terkejut dan menjawab, "Ya, Tuhan!" Allah kemudian menyatakan maksud-Nya yang mulia. Allah melihat penderitaan umat-Nya di Mesir, mendengar rintihan mereka, dan Ia berjanji akan membebaskan mereka. Dan Allah memilih Musa untuk menjadi pemimpin yang akan membawa mereka keluar dari Mesir.

Musa merasa sangat tidak mampu. Ia berkata kepada Allah, "Siapakah aku ini, ya Tuhan, sehingga aku harus pergi menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" Musa merasa ia tidak pandai bicara, ia takut tidak akan didengarkan oleh bangsanya sendiri maupun oleh Firaun. Namun, Allah tidak menyerah. Allah berjanji akan selalu menyertai Musa. Allah memberinya tanda: "Inilah tandanya bagimu: ketika engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, kamu akan mempersembahkan korban kepada Allah di gunung ini." Allah juga menyatakan nama-Nya kepada Musa, yaitu "AKU ADALAH AKU". Nama ini menunjukkan bahwa Allah itu kekal, selalu ada, dan sumber segala sesuatu.

Dengan berat hati namun penuh keyakinan pada janji Allah, Musa akhirnya setuju. Allah juga memberikan bantuan kepada Musa, yaitu kakaknya, Harun, yang pandai bicara, untuk membantunya. Maka, Musa dan Harun pun kembali ke Mesir untuk menghadap Firaun dan menyampaikan pesan Allah: "Biarkan umat-Ku pergi, supaya mereka beribadat kepada-Ku."

Namun, Firaun sangat keras hati. Ia menolak untuk membiarkan bangsa Israel pergi. Berkali-kali Musa dan Harun menghadap Firaun, berkali-kali pula Firaun menolak. Setiap kali Firaun menolak, Allah mengirimkan sepuluh tulah, atau bencana, ke Mesir. Tulah-tulah ini sangat dahsyat, mulai dari air sungai Nil berubah menjadi darah, datangnya katak, nyamuk, lalat pikat, penyakit sampar pada ternak, barah, hujan es, belalang, kegelapan gulita, hingga yang terakhir, kematian semua anak sulung di Mesir, baik manusia maupun hewan.

Namun, pada tulah yang terakhir ini, Allah memberikan perlindungan khusus bagi bangsa Israel. Allah memerintahkan Musa untuk mengambil seekor anak domba yang sehat, menyembelihnya, dan mengoleskan darahnya di tiang pintu rumah mereka. Darah domba itu menjadi tanda bagi Malaikat Maut Allah untuk melewati rumah-rumah orang Israel dan hanya menimpa anak-anak sulung orang Mesir. Peristiwa ini disebut Paskah. Paskah mengingatkan kita akan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, dan bagi kita umat Kristiani, Paskah adalah peringatan akan kebangkitan Yesus Kristus yang membebaskan kita dari dosa.

Setelah kematian anak sulung Firaun, Firaun akhirnya sadar dan membiarkan bangsa Israel pergi. Dengan hati yang gembira dan penuh syukur, bangsa Israel akhirnya keluar dari tanah Mesir. Musa memimpin mereka. Mereka berjalan di padang gurun, dipimpin oleh tiang awan di siang hari dan tiang api di malam hari, sebuah tanda kehadiran Allah yang menyertai mereka.

Namun, perjalanan mereka tidaklah mudah. Ketika bangsa Israel sudah keluar dari Mesir, Firaun berubah pikiran lagi. Ia menyesal telah membiarkan budaknya pergi, dan ia kembali mengejar mereka dengan pasukan keretanya. Bangsa Israel sangat ketakutan ketika melihat pasukan Firaun mendekat. Mereka berada di tepi Laut Merah, dan di depan mereka terbentang lautan yang luas. Mereka merasa terjebak.

Tetapi Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Allah memerintahkan Musa untuk mengangkat tongkatnya dan mengulurkannya ke atas Laut Merah. Musa melakukannya, dan dengan kuasa Allah, Laut Merah terbelah menjadi dua, menciptakan jalan yang kering di tengahnya! Bangsa Israel pun berjalan menyeberangi laut itu dengan aman.

Ketika pasukan Firaun mencoba mengikuti mereka, Allah memerintahkan Musa untuk kembali mengulurkan tongkatnya. Seketika, air laut kembali menutup, menenggelamkan seluruh pasukan Firaun. Sungguh keajaiban yang luar biasa! Bangsa Israel selamat, dan Firaun beserta pasukannya tidak dapat lagi mengganggu mereka.

Setelah peristiwa di Laut Merah, Musa terus memimpin bangsa Israel di padang gurun. Perjalanan mereka penuh dengan tantangan. Mereka sering mengeluh, lapar, dan haus. Namun, Allah selalu menyediakan apa yang mereka butuhkan. Allah menurunkan "manna" dari langit untuk makanan mereka, dan Allah juga membuat air keluar dari batu karang agar mereka bisa minum.

Di Gunung Sinai, Allah memberikan Sepuluh Perintah-Nya kepada Musa. Sepuluh Perintah ini adalah aturan hidup yang diberikan Allah kepada umat-Nya agar mereka hidup sesuai dengan kehendak Allah dan saling mengasihi. Sepuluh Perintah ini adalah dasar dari hukum dan moralitas kita hingga saat ini.

Musa adalah pemimpin yang hebat, tetapi ia juga manusia biasa. Ia pernah marah, pernah ragu, dan pernah membuat kesalahan. Namun, yang terpenting adalah ia selalu kembali kepada Allah. Ia selalu berdoa dan memohon petunjuk dari Allah. Allah sangat mengasihi Musa dan mempercayainya untuk memimpin umat-Nya.

Melalui kisah Musa, kita belajar banyak hal, anak-anak.

Pertama, kita belajar bahwa Allah sangat peduli dengan umat-Nya. Allah melihat penderitaan bangsa Israel dan mendengar rintihan mereka. Allah tidak tinggal diam ketika umat-Nya menderita. Sama seperti Allah yang peduli pada bangsa Israel, Allah juga sangat peduli pada kita. Ia selalu ada untuk kita, mendengarkan doa-doa kita, dan mengasihi kita tanpa syarat.

Kedua, kita belajar tentang iman dan ketaatan. Musa awalnya merasa takut dan tidak mampu, tetapi ia mau mendengarkan panggilan Allah dan taat pada perintah-Nya. Ia percaya bahwa Allah akan menyertainya. Kita pun diajak untuk memiliki iman yang kuat kepada Allah dan taat pada kehendak-Nya, meskipun terkadang hal itu sulit.

Ketiga, kita belajar tentang kepemimpinan yang melayani. Musa tidak memimpin bangsanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk membebaskan mereka dan membawa mereka kepada Allah. Seorang pemimpin yang sejati adalah ia yang mau melayani orang lain.

Keempat, kita belajar tentang harapan dan pembebasan. Kisah Musa adalah kisah tentang harapan. Sekalipun dalam situasi yang paling gelap, Allah selalu bisa memberikan jalan keluar dan pembebasan. Bagi kita umat Kristiani, pembebasan terbesar datang melalui Yesus Kristus, yang mengalahkan maut dan memberikan kita harapan kehidupan kekal.

Terakhir, kita belajar bahwa Allah menggunakan orang-orang biasa untuk melakukan hal-hal yang luar biasa. Musa bukanlah seorang raja atau prajurit yang gagah berani sejak awal. Ia adalah seorang gembala yang sederhana. Tetapi Allah memilihnya dan memberinya kuasa serta keberanian. Allah juga bisa menggunakan kita, anak-anak, untuk melakukan hal-hal yang baik dan berarti bagi kemuliaan-Nya.

Kisah Musa mengajarkan kita bahwa dengan Allah, tidak ada yang mustahil. Marilah kita meneladani iman Musa, keberaniannya, dan ketaatannya kepada Allah. Mari kita selalu berdoa dan berserah kepada-Nya, karena Dialah sumber kekuatan dan harapan kita.

Terima kasih sudah mendengarkan, anak-anak. Semoga kisah Musa ini menginspirasi kita semua untuk semakin mencintai Allah dan mengikuti jalan-Nya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *